RSS

Surat Cinta : Panduan Hidup yang paling benar

Saya akan mencoba mengenalkan sahabat untuk kesunyian, sahabat dikala gelap, sahabat untuk kita yang sering mengeluh ‘Bosan..!! tidak ada yang bisa dikerjakan’ untuk kita yang selama ini merasa kering, untuk kita yang selama ini hanya menganggapnya seperti bahasa planet, untuk kita yang waktu dalam hidup nya terasa membosankan.  semoga siapa saja yang membaca ini adalah orang yang beruntung, semoga…termasuk saya.

Saya yakin jika ditanya berapa jumlah juz, surat dan ayat dalam alquran? Banyak yang menjawab dengan tegas 30 juz, 114 surat, 6666 ayat. Memang itu yang diajarkan kepada kita waktu masih SD. Jauh hari dulu pun saya akan menjawab seperti itu, saya juga pernah mencoba menanyakan kebeberapa orang, dan jawaban yang saya dapat persis, 30114666.

Sudah menjadi kewajiban bagi kita sesama muslim untuk saling meluruskan, jumlah juz, surat, ayat dalam alquran adalah 30 juz, 114 surat dan 6236 ayat. Bukan 6666 ayat. Kesalahan kita selama ini adalah selalu menganggap apa yg kita dapat adalah benar tanpa berusaha meneliti kebenarannya. Salah satu contoh lagi, banyak orang yang menggunakan hadist “bekerjalah untuk dunia seakan-akan kau akan hidup selamanya, dan beribadahlah seakan-akan kau akan mati besok” saya pernah juga mendengar kalimat ini dari seorang penceramah, padahal status hadist ini adalah mau’du (palsu), sangat disayangkan, harusnya mereka yang menyiarkan agama adalah orang-orang yang labih berhati-hati. yang benar berkaitan dengan ini adalah adalah kerjarlah dunia maka kau akan mendapatkan dunia. kejarlah akhirat, maka kau akan mendapatkan keduanya (dunia dan akhirat)”

Kembali ke surat cinta, sepertinya selama ini kalam Sang Maha Cinta ini hanya seperti bahasa planet ditelinga kita, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan, kita bahkan tidak merasakan apa-apa saat ayat demi ayat dibacakan, tidak ada getaran sedikitpun. Adab-adab dalam berinteraksi dengannyapun sering kita abaikan, saat mebacanya maupun saat mendengarkannya. Padahal kita diingatkan “jika alqur’an dibacakan maka dengarkanlah….!” Tapi begitu sering kita mengeraskan suara padahal alquran sedang dibacakan, bahkan saat membacanya kita dengan mudah menyelipinya dengan pembicaraan, senda gurau. Yang kita baca adalah kalam ilahi, perkataan Tuhan! Sebegitu bekukah hati kita?

Selama ini mungkin alquran hanya sekedar bacaan bagi kita, tanpa tau makna, bahkan ada yang membaca alquran hanya saat TPA, 1 kali khatam garansi untuk seumur hidup. Bukan seperti itu tujuan alquran diturunkan. Yang lebih disayangkan lagi masih ada saudara kita yang masih belum bisa membaca Alquran. Astaghfirulloh, Semoga Allah segera memberikan hidayah kepada mereka.

Tentu kita pernah mendengar konsep anak yang bisa menjadi cahaya dihari kiamat, ketika cahaya-cahaya lain termasuk cahaya kita sangat redup dan tidak cukup untuk menjadi modal agar terhindar dari api neraka. kita sering tidak yakin dengan nasib kita di akhirat kelak sementara disisi lain banyak sekali hadist Rosul yang mulia menyatakan bahwa anak yang saleh bisa menjadi penyelamat orang tuanya didalam kubur.  Bukan suatu yang berlebihan jika para orang tua menaruh harapan akan nasib mereka diakhirat kelak kepada anak-anak mereka. Kita adalah serang anak dari orang tua kita dan kita akan menjadi orang tua bagi anak-anak kita. Apakah yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan orang tua kita?

Bagi yang orang tuanya sudah dipanggil terlebih dahulu, pernahkah terpikir bahwa orang tua kita disana menunggu, menantikan udara sejuk, berkat dari bacaan alqur’an dari anak-anaknya? Apakah cukup kita berkata ayahku sudah tiada!? Ibuku sudah dalam kubur?! Apa yang bisa menyejukan mereka disana jika mereka tidak pernah menerima kiriman surat cinta dari anak-anaknya? perlu dibold dan digaris bawahi. Apa yang bisa kita kirim untuk orang tua kita yang suda tiada di dunia?

Selanjutnya, mari kita melihat kondisi masyarakat disekitar kita; pornografi, pemerkosaan, korupsi, pembunuhan, menjadi konsumsi sehari-hari. Bukankah mereka yang melakukan itu dulunya adalah anak-anak kecil yang polos? Siapa yang harus disalahkan jika dimasa kecil orang tua mereka lebih senang mengajari mereka bernyanyi daripada menghafal alquran? Kenapa mereka para orang tua tidak mendekatkan anak-anaknya pada alquran agar menjadi anak-anak yang saleh. Padahal merekalah yang akan menjadi tumpuan harapan para orang tua agar menjadi cahaya penerang di hari yang sangat sulit.

Bersyukurlah untuk kita yang memiliki orang tua yang telah memukul kita karena lalai dalam sholat, berbanggalah kita yang telinganya dibuat panjang karena alpa dalam mengkaji alquran. Beruntunglah kita yang memiliki orang tua yang telah menyita sedikit waktu bermain kita diwaktu kecil untuk belajar mengucapkan Wa nunazzilu min Alqurani maa huwa syifaaun wa rahmatun lil mu’minin.

Ditulis dengan penuh cinta sebagai syukur dan terimakasih untuk kedua orang tua saya, semoga berkah dan selamat dalam usia mereka.

Fauji Nurdian.


Your Comment