Suatu ketika datang seorang anak kepada Rasulullah bertanya tentang apa yang harus dia lakukan untuk orang tuanya. Beliau Nabi Muhammad SAW menjawab dengan jawaban yang singkat, sabdanya: “Orang tuamu adalah surgamu atau nerakamu”.
Alhamdulillah Ramadhan 1431 H sudah dijalani dengan kurang sempurna, semoga diberikan kesempatan untuk menyepurnakan Ramadhan ditahun depan. Setelah satu bulan penuh menjalani puasa dan menjalani ibadah-ibadah ramdhan, syawal pun telah datang, beruntunglah mereka yang telah dibebaskan dari api neraka dan rugilah kita yang hanya meniggalkan Ramdhan hanya dengan pengalaman menahan lapar dan haus.
Tradisi yang selalu dilakukan pada hari raya idul fitri adalah saling meminta dan memberi maaf, saling berkunjung dan dikunjungi. Setiap kali pertemuan dengan teman, saudara yang jauh maupun yang dekat, kita berjabat tangan dan meminta maaf. Semua itu kita lakukan demi sempurnanya amal yang sudah dilakukan pada bulan Ramadhan dan penyempurnaan pensucian diri. Namun sepertinya banyak dari kita yang tidak memulainya dari keluarga, terutama kedua orang tua. Padahal merekalah yang paling pantas pertama kali kita mintakan maaf.
Sekarang ini mungkin banyak yang tidak begitu memeperhatikan tentang berbakti kepada kedua orang tua. Pengertian berbakti disinipun seringkali diartikan sempit sehingga mengurangi makna yang sebenarnya.
Semakin mendekati akhir jaman, maka semakin sedikit mengingat-ingat apalagi menjalankan perintah islam. Saking minimnya bahkan banyak diantara orang-orang yang merasa malu dengan keadaan orang tuanya karena penampilanya yang lugu. Parahnya saya pernah merasakan seperti itu. Alhamdulillah saya sudah bertaubat. Semoga Allah mengampuni dosa saya.
Sebuah pengalaman yang saya rasakan luar biasa pada akhir Ramadhan tahun ini. Saat idul fitri tiba seperti biasanya dalam keluarga kami saling memberi dan meminta maaf, dimulai dari anak-anak meminta maaf kepada orang tua. Saya ingat pada saat itu bahwa surga berada ditelapak kaki ibu dan ridho Allah berada pada ridho kedua orang tua. Banyak cerita saya dengar tentang anak yang membasuh kaki orang tua, mencium kaki orang tua, kesemua itu adalah untuk meminta ridho Allah yang berada pada kedua orang tua.
Saya sadar telah banyak durhaka kepada kedua orang tua, saya pernah menbantah, saya pernah malas jika disuruh dan saya pernah merasa kesal walau disimpan dalam hati. Saya mengakui semua itu. Jika yang sedang membaca tulisan ini belum pernah melakukan yang sudah pernah saya lakukan itu luar biasa dan jangan pernah lakukan!
Sebagai seorang yang merasa berdosa saya tidak ingin dosa saya kepada orang tua terus mengusik dalam hati. Sungguh menyiksa apalagi jika harus dibawa sampai mati.
Surga ada ditelapak kaki ibu. Entah secara hakikat maupun diartikan lahiriah kalimat itu adalah benar.Dan saya membuktikan saat itu, saya cium kedua kaki ibu bapak, getaran yang sangat luar biasa saya rasakan di dada, seolah badan ini terguncang, nafas tersedak, air mata pun mengalir. Sulit sekali mulut ini berkata-kata selain hanya menangis, badan terus bergetar dan air mata semakin berlinang, saya tatap ibu dan bapak pun tidak sanggup menahan air mata mereka.
Sungguh luar biasa perasaan pada saat itu, dan belum pernah merasakan bandingannya. Perasaan lega, damai, tentram itu yang saya rasakan setelah kami mencukupkan air mata bahagia hari itu. Ini adalah pengalaman nyata, bukan hanya cerita yang dibuat-buat, dan anda tentu tidak akan pernah merasakannya sebelum mempunyai niat dan melakukannya dengan ikhlas.
Sebelum melakukan itu semua saya telah berniat dari awal Ramadhan, karena saya yakin tidak semua bisa melakukan itu sehingga saya memerlukan kesungguhan niat. Tak sanggup saya membayangkan harus ditinggalkan oleh mereka sementara mereka belum Ridho dengan saya, tidak sanggup rasanya jika mereka sudah tidak ada. kemana lagi harus berbakti. Penyesalan lah yang ada karena waktu tidak mungkin diputar mundur. Silakan anda buktikan dengan bertanya pada mereka yang sudah ditinggalakan orang tuanya sementara dalam hidupnya belum sempat meminta ridha dari keduanya. Ya Ridho ini harus diminta, tidak cukup dalam awang-awang pikiran kita.
Saya ingat sekali pesan seorang sahabat saat berada di bandung kira-kira 3 tahun yang lalu. “Tidak apa-apa kita hidup pas-pasan tetapi bisa memberi lebih kepada orang tua” sederhana namun begitu lekat di telinga saya. Memberi tentunya tidak sebatas materi namun lebih banyak lagi, yang sering kita lupa misalnya berapa kali kita berdoa untuk orang tua kita dalam sehari? apakah kita mengingat mereka disujud-sujud terakhir kita dalam lima waktu maupun sunah? jika kita makan enak semetara kita berjauhan pernahkah berpikir “Apakah yang bapak ibu makan dirumah hari ini?” Sungguh terlalu jika kita melupakan itu semua sedangkan amal apapun tidak akan pernah cukup untuk membalas kasih sayang mereka.
Tidak ada waktu untuk menunda dalam berbakti kepada mereka. Mohonkanlah maafnya atas segala kesalahan dan kelalaian kita selama ini. Karena siapa tahu Allah akan segera menakdirkan perpisahan antara kita dengan mereka untuk selama-lamanya. Kalau keduanya sudah berada di dalam kubur, atau kita sendiri yang mendahului mereka (bukan hal yang mustahil). Bagaimana kita bisa memohon ridhonya? Kita tidak bisa mempersembahkan bakti apapun kalau mereka sudah terbujur kaku. Jangan enggan untuk membela, membahagiakan, memuliakan, menghormati, dan berbuat yang terbaik terhadap keduanya. Jangan lupa untuk selalu mendoakan keduanya agar mendapatkan khusnul khotimah. Ini adalah hal yang penting - Khusnul Khotimah. Mudah-mudahan perjuangan kita yang ikhlas dalam memuliakan keduanya membuat Allah ridha di dunia dan akhirat. Amin
persembahan untuk kedua orang tua,dengan penuh cinta,
Fauji Nurdian

Hebaaatt yang mas Uzi lakukan euy, ngga semua orang bisa. Bagus tulisannya, menyentuh…like this