9.55 malam, bayu yang lembut membisikan sebuah nama lewat Jendela kamarku yang masih telanjang. Suara-suara diluar, hanyut terlarut dalam alunan intrumen kehidupan yang kini… sepertinya semakin terlalu banyak improvisasi. Berjuta orang diluar sana, dalam detik ini berlomba mencari kesenangan, mencari obat-obat untuk luka didalam dada. Tubuhku hanya terbaring diatas sebuah potongan busa, namun jiwa, seolah membawa setiap bungkusan daging ini mengelana, mengawang-awang dibawah atap dunia. Jauh lebih jauh dari jutaan orang di daratan sana.
Sebilah mesin terus diam, kaku…tanpa suara, tanpa pesan. jarum waktu didinding kamarpun kullihat tak sanggup lagi berotasi. Lalu bagaimana aku harus membalas pesan dari sang bayu?
aku teringat akan pesan seorang bijak, bahwa langit, daratan bahkan lautan dimiliki oleh seorang yang jika aku minta tolong pada Nya, mungkin aku akan tau jawaban apa yang harus kuucap.
Yaa akupun coba menghubungi Nya, lewat sebuah alat komunikasi yang pernah dia pinjamkan, yang sudah sejak lahir tertancap didada.”Aku dekat.. sangat dekat, dan lebih dekat dari urat lehermu.. “ begitu Dia menjawab panggilanku. akupun mulai bercerita pada Nya tentang pesan dari bayu.
sungguh Dia sangat mengerti tentang semua yang kuceritakan. Diapun tau ada sesuatu yang sedang tidak seimbang dalam organ dalamku. Dia banyak berbisik tentang jawaban-jawaban dari pertanyaan yang belum sempat aku utarakan, sungguh Dia Maha Tahu…akupun semakin yakin Dengan kemahaan Nya.
Sebelum pembicaraan kami terputus, aku sempat mentitipkan sebuah paket, sekaligus memesan tiket masuk kesuatu tempat yang berisi taman indah milik Nya. Aku sudah mendapatkan jawaban sekaligus persyaratan yang harus aku penuhi untuk tiket itu. Dan aku ingin sampaikan ini padamu…
“ Aku ingin mengajakmu ke surga, ketempat yang paling indah yang pernah diceritakan. Namun jalan kesana sangat sulit, banyak batu dan tanjakan. Apa kau siap untuk merelakan kakimu tergores batu tajam? Apa kau rela tangan lembutmu harus menjadi kasar? Karena aku akan memaksamu untuk tetap berdiri dibelakangku, berpijak diatas batu, dan kadang tanganmu harus kau gunakan untuk tetap bisa bertahan diatasnya, bahkan keningmu yang cantikpun harus siap tergores. Tapi aku janji, aku akan menutup semua lukamu setelah itu..
Akupun akan selalu mengajakmu untuk terus berucap ayat-ayat cinta yang berisi petunjuk yang harus kita ikuti untuk saling menguatkan agar kita sampai disana . Karena suara-suara jahat yang akan melenakan tujuan kita bakal banyak berteriak, kadang teriakan itu menjadi rayuan-rayuan yang mematikan, sehingga kau yang lembut akan mudah terbius, dan tak sadar akan tujuan kita. Putuskanlah sekarang, karena waktu kita tidak banyak,kita bisa saja tak mampu berdiri sebelum tiket itu kita dapatkan, apau kau mau ikut denganku…?
Aku tidak bisa menunggu lama, karena aku akan berjalan sendiri jika engkau memilih jalan yang ramai dengan orang yang lalai, kau tidak akan merasa letih dijalan itu, namun kau akan sangat merugi dan menyesal saat semua benar-benar terhenti. ikutlah dengaku…akupun merasa tak sanggup jika harus berjalan sendiri,
Oia, masih ada yang belum aku sampaikan, saat aku memesan tiket aku melihat sebuah egenda yang berisi catatan bahwa disana ada suatu tempat yang sangat mengerikan, menyakitkan dan siapa saja yang kesana pasti tidak sanggup bertahan. Disaat itu penyesalah sudah tiada guna. Tempat itu adalah lawan dari surga, Dia yang maha tahu mengatakan bahwa disana akan banyak dihuni oleh manusia-manusia sejenismu. Aku tak ingin jika kau harus disana, ikutlah denganku, berdirilah khusuk dibelakangku, aku akan mengajakmu ke surga…”
With Love
Fauji Nurdian.
Seberapa besar keinginanmu untuk mengajaknya?apakah ia tahu ajakamu itu?dan Berapa lama waktu yang bisa kau berikan untuk menunggu?