<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Fauji Nurdian Personal Blog</title>
	<atom:link href="http://faujinurdian.co.cc/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://faujinurdian.co.cc</link>
	<description>Biarkan aku melakukan dengan kesederhanaan &#124; Pemahaman, awal sebuah perjalanan fana</description>
	<pubDate>Fri, 24 Sep 2010 05:27:45 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Membuat Orang Tua Menangis</title>
		<link>http://faujinurdian.co.cc/membuat-orang-tua-menangis/</link>
		<comments>http://faujinurdian.co.cc/membuat-orang-tua-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Sep 2010 05:27:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauji</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bait Al-Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faujinurdian.co.cc/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika datang seorang anak kepada Rasulullah bertanya tentang apa yang harus dia lakukan untuk orang tuanya. Beliau Nabi Muhammad SAW menjawab dengan jawaban yang singkat, sabdanya: &#8220;Orang tuamu adalah surgamu atau nerakamu&#8221;. 
Alhamdulillah Ramadhan 1431 H sudah dijalani dengan kurang sempurna, semoga diberikan kesempatan untuk menyepurnakan Ramadhan ditahun depan. Setelah satu bulan penuh menjalani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://faujinurdian.co.cc/wp-content/uploads/2010/09/image_00006.jpg" target="_blank"><img class="alignleft size-full wp-image-223" style="border: 3px solid black; margin: 3px;" title="Fauji Nurdian, Family" src="http://faujinurdian.co.cc/wp-content/uploads/2010/09/image_00006.jpg" alt="Fauji Nurdian, Family" width="161" height="121" /></a><span><span style="color: #333333;"><span>Suatu ketika datang seorang anak kepada Rasulullah bertanya tentang apa yang harus dia lakukan untuk orang tuanya. Beliau Nabi Muhammad SAW menjawab dengan jawaban yang singkat, sabdanya: <em>&#8220;Orang tuamu adalah surgamu atau nerakamu&#8221;. </em></span></span></span></p>
<p><span><span style="color: #333333;"><span>Alhamdulillah Ramadhan 1431 H sudah dijalani dengan kurang sempurna, semoga diberikan kesempatan untuk menyepurnakan Ramadhan ditahun depan. Setelah satu bulan penuh menjalani puasa dan menjalani ibadah-ibadah ramdhan, syawal pun telah datang, beruntunglah mereka yang telah dibebaskan dari api neraka dan rugilah kita yang hanya meniggalkan Ramdhan hanya dengan pengalaman menahan lapar dan haus.</span></span></span></p>
<p><span><span style="color: #333333;"><span>Tradisi yang selalu dilakukan pada hari raya idul fitri adalah saling meminta dan memberi maaf, saling berkunjung dan dikunjungi. Setiap kali pertemuan dengan teman, saudara yang jauh maupun yang dekat, kita berjabat tangan dan meminta maaf. Semua itu kita lakukan demi sempurnanya amal yang sudah dilakukan pada bulan Ramadhan dan penyempurnaan pensucian diri. Namun sepertinya banyak dari kita yang tidak memulainya dari keluarga, terutama kedua orang tua. Padahal merekalah yang paling pantas pertama kali kita mintakan maaf.</span></span></span></p>
<p><span><span style="color: #333333;"><span>Sekarang ini mungkin banyak yang tidak begitu memeperhatikan tentang berbakti kepada kedua orang tua. Pengertian berbakti disinipun seringkali diartikan sempit sehingga mengurangi makna yang sebenarnya. </span></span></span></p>
<p><span><span style="color: #333333;"><span>Semakin mendekati akhir jaman, maka semakin sedikit mengingat-ingat apalagi menjalankan perintah islam. Saking minimnya bahkan banyak diantara orang-orang yang merasa malu dengan keadaan orang tuanya karena penampilanya yang lugu. Parahnya saya pernah merasakan seperti itu. Alhamdulillah saya sudah bertaubat. Semoga Allah mengampuni dosa saya.<br />
</span></span></span></p>
<p><span><span style="color: #333333;"><span>Sebuah pengalaman yang saya rasakan luar biasa pada akhir Ramadhan tahun ini. Saat idul fitri tiba seperti biasanya dalam keluarga kami saling memberi dan meminta maaf, dimulai dari anak-anak meminta maaf kepada orang tua. Saya ingat pada saat itu bahwa surga berada ditelapak kaki ibu dan ridho Allah berada pada ridho kedua orang tua. Banyak cerita saya dengar tentang anak yang membasuh kaki orang tua, mencium kaki orang tua, kesemua itu adalah untuk meminta ridho Allah yang berada pada kedua orang tua. </span></span></span></p>
<p><span><span style="color: #333333;"><span>Saya sadar telah banyak durhaka kepada kedua orang tua, saya pernah menbantah, saya pernah malas jika disuruh dan saya pernah merasa kesal walau disimpan dalam hati. Saya mengakui semua itu. Jika yang sedang membaca tulisan ini belum pernah melakukan yang sudah pernah saya lakukan itu luar biasa dan jangan pernah lakukan!<br />
Sebagai seorang yang merasa berdosa saya  tidak ingin dosa saya kepada orang tua terus mengusik dalam hati. Sungguh menyiksa apalagi jika harus dibawa sampai mati.</span></span></span></p>
<p><span><span style="color: #333333;"><span><strong>Surga ada ditelapak kaki ibu.</strong> Entah secara hakikat maupun diartikan lahiriah kalimat itu adalah benar.Dan saya membuktikan saat itu, saya cium kedua kaki ibu bapak, getaran yang sangat luar biasa saya rasakan di dada, seolah badan ini terguncang, nafas tersedak, air mata pun mengalir. Sulit sekali mulut ini berkata-kata selain hanya menangis, badan terus bergetar dan air mata semakin berlinang, saya tatap ibu dan bapak pun tidak sanggup menahan air mata mereka. </span></span></span></p>
<p><span><span style="color: #333333;"><span>Sungguh luar biasa perasaan pada saat itu, dan belum pernah merasakan bandingannya. Perasaan lega, damai, tentram  itu yang saya rasakan setelah kami mencukupkan air mata bahagia hari itu. Ini adalah pengalaman nyata, bukan hanya cerita yang dibuat-buat, dan anda tentu tidak akan pernah merasakannya sebelum mempunyai niat dan melakukannya dengan ikhlas.</span></span></span></p>
<p><span><span style="color: #333333;"><span>Sebelum melakukan itu semua saya telah berniat dari awal Ramadhan, karena saya yakin tidak semua bisa melakukan itu sehingga saya memerlukan kesungguhan niat. Tak sanggup saya membayangkan harus ditinggalkan oleh mereka sementara mereka belum Ridho dengan saya, tidak sanggup rasanya jika mereka sudah tidak ada. kemana lagi harus berbakti. Penyesalan lah yang ada karena waktu tidak mungkin diputar mundur. Silakan anda buktikan dengan bertanya pada mereka yang sudah ditinggalakan orang tuanya sementara dalam hidupnya belum sempat meminta ridha dari keduanya. <strong>Ya Ridho ini harus diminta, tidak cukup dalam awang-awang pikiran kita.</strong><br />
</span></span></span></p>
<p><span><span style="color: #333333;"><span>Saya ingat sekali pesan seorang sahabat saat berada di bandung kira-kira 3 tahun yang lalu. <em>&#8220;Tidak apa-apa kita hidup pas-pasan tetapi bisa memberi lebih kepada orang tua&#8221;</em> sederhana namun begitu lekat di telinga saya. Memberi tentunya tidak sebatas materi namun lebih banyak lagi, yang sering kita lupa misalnya berapa kali kita berdoa untuk orang tua kita dalam sehari? apakah kita mengingat mereka disujud-sujud terakhir kita dalam lima waktu maupun sunah? jika kita makan enak semetara kita berjauhan pernahkah berpikir &#8220;Apakah yang bapak ibu makan dirumah hari ini?&#8221; Sungguh terlalu jika kita melupakan itu semua sedangkan amal apapun tidak akan pernah cukup untuk membalas kasih sayang mereka.</span></span></span></p>
<p>Tidak ada waktu untuk menunda dalam berbakti kepada mereka. Mohonkanlah maafnya atas segala kesalahan dan kelalaian kita selama ini. Karena siapa tahu Allah akan segera menakdirkan perpisahan antara kita dengan mereka untuk selama-lamanya. Kalau keduanya sudah berada di dalam kubur, atau kita sendiri yang mendahului mereka (bukan hal yang mustahil). Bagaimana kita bisa memohon ridhonya? Kita tidak bisa mempersembahkan bakti apapun kalau mereka sudah terbujur kaku. Jangan enggan untuk membela, membahagiakan, memuliakan, menghormati, dan berbuat yang terbaik terhadap keduanya. Jangan lupa untuk selalu mendoakan keduanya agar mendapatkan khusnul khotimah. <strong>Ini adalah hal yang penting - Khusnul Khotimah</strong>. Mudah-mudahan perjuangan kita yang ikhlas dalam memuliakan keduanya membuat Allah ridha di dunia dan akhirat. Amin</p>
<p>persembahan untuk kedua orang tua,dengan penuh cinta,<br />
Fauji Nurdian</p>
<p><a title="Orang Tua Tercinta" href="http://faujinurdian.co.cc/wp-content/uploads/2010/09/image0075.jpg" target="_blank"><img class="alignleft size-medium wp-image-228" style="border: 3px solid black; margin: 3px;" title="Family" src="http://faujinurdian.co.cc/wp-content/uploads/2010/09/image0075-300x225.jpg" alt="Family" width="126" height="95" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faujinurdian.co.cc/membuat-orang-tua-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berkunjung ke Rumah Rasul</title>
		<link>http://faujinurdian.co.cc/berkunjung-ke-rumah-rasul/</link>
		<comments>http://faujinurdian.co.cc/berkunjung-ke-rumah-rasul/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 08:45:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauji</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Law of Attraction]]></category>

		<category><![CDATA[Techno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faujinurdian.co.cc/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seorang yang memeluk islam tentunya kita sudah mengenal junjungan kita Muhammad rasullulloh yang mulia. Sebagai manusia pilihan dengan berbagai mu’jizat yang beliau miliki, beliau adalah contoh teladan yang terbaik. Baca Al-ahzab:21
Manusia yang mulia seperti rosul, sudah sepantasnya mendapatkan tempat yang paling mulia karena beliau tahu betul dimana kemualiaan itu berada, Sedangkan kita sebagai umat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Sebagai seorang yang memeluk islam tentunya kita sudah mengenal junjungan kita Muhammad rasullulloh yang mulia. Sebagai manusia pilihan dengan berbagai mu’jizat yang beliau miliki, beliau adalah contoh teladan yang terbaik. Baca <em>Al-ahzab:21</em></p>
<p class="MsoNormal">Manusia yang mulia seperti rosul, sudah sepantasnya mendapatkan tempat yang paling mulia karena beliau tahu betul dimana kemualiaan itu berada, Sedangkan kita sebagai umat beliau, sering salah dalam menafsirkan kemuliaan. Rumah mewah, perhiasan, kendaraan, harta, sering kali menjadi ukuran kemuliaan dimata kita. Baca <em>Al- Hadiid :20</em></p>
<p class="MsoNormal">Pernah anda membayangkan bagaimana keadaan rumah rasullulloh? Rumah beliau hanya berukuran 5&#215;4x3 untuk panajang lebar dan tingginya, terbuat dari tanah dan beratapkan pelepah kurma.</p>
<p class="MsoNormal">Apakah berarti nabi adalah orang yang miskin? Tidak. Jika beliau menginkan kemewahan, tentu sangat mudah bagi Allah untuk mengabulkannya. Namun sebagai manusia mulia beliau mengajarkan kepada kita tentang hakikat hidup yang sebenarnya, Beliau mengajarkan kesederhanaan, karena nyatanya kesederhaan lebih sulit diraih daripada kemewahan. Dan karena kesederhaan tidak bisa dipalsukan.</p>
<p class="MsoNormal">Jika kita mau masuk lagi kedalam rumah rosul dan belajar didalamnya, banyak sekali yang bisa kita ambil,sebagai seorang istri misalnya, tentu tidak mudah menjadi istri nabi yang hidupnya penuh dengan cobaan. Dari sana bisa dipelajari yang namanya kesetiaan dan bakti kepada suami.</p>
<p class="MsoNormal">Dimasa ini banyak hal unik , semisal dalam hal ‘perjanjian hidup bersama’. Biasanya orang akan bertanya, “Apakah sudah siap?” siap disini kebanyakan mengarah kepada segi materi, Dengan alasan materi pula banyak yang tertunda penyempurnaan agama nya. Memang sudah menjadi rahasia umum kebiasaan seperti itu sudah menjadi adat untuk beberapa kelompok orang. Mereka memasang label harga untuk bisa melangsungkan sunah nabi tersebut menurut standarisasi mereka sendiri. Padahal jika manusia yakin tanpa memasang lebel tinggi Allah akan memberikan tunai sesuai dengan janji Nya, <em>Baca An-Nur :32</em></p>
<p class="MsoNormal">Masih berkaitan dengan materi, banyak orang yang mengatakan “Hidup begini terus kapan senangnya” . Orang seperti itu adalah orang yang pantas dikasihani karena ketidak mengertiannya. Salah besar jika dalam hidup di dunia ini yang dicari adalah kesenangan, karena dunia bukan tempatnya untuk bersenang-senang. Beda hal nya jika yang dicari adalah kebahagiaan. Setiap orang punya kesempatan untuk berbahagia disetiap saat. Bahkan saat tidak memiliki apapun untuk dimakan selain nasi dan garam. Saya sudah membuktikan.</p>
<p class="MsoNormal">Satu bulan lagi, kita akan memasuki bulan suci ramadhan, dimana pelatihan kesederhaan akan kita jalani. di bulan ramadhan, biasanya akan banyak diadakan pengajian, ceramah agama dan buka puasa bersama. Pada saat-saat itu seringkali disampaikan bahwa<span> </span>10 hari pertama ramadhan adalah hari diturunkanya Rahmat, 10 hari kedua adalah pengampunan dosa, dan 10 hari terakhir adalah pembebasan dari api neraka.</p>
<p class="MsoNormal">Yang perlu menjadi perhatian kita adalah kesiapan dalam memasuki bulan tersebut. Logikanya, tidak mungkin seseorang dibebaskan dari api neraka jika dosanya tidak diampuni, dan tidak mungkin dosa seseroang diampuni tanpa adanya rahmat dari Allah.<span> </span>Dengan begitu, menjadi sangat penting bagi kita, hari-hari pertama ramadhan, karena akan menentukan nilai ibadah kita untuk hari berikutnya sampai hari pembebasan dan kemenangan tiba.</p>
<p class="MsoNormal">Atas perantara rosul juga kita bisa menikmati bulan ramadhan seperti yang akan datang, berkat bimbingan beliau sampai saat ini kita bisa merasakan nikmatnya islam. Sungguh tidak mudah mencontoh pribadi nabi yang mulia, beliau adalah pembimbing yang sempurna. Manusia seperti beliaulah yang sebenarnya kita butuhkan saat ini dalam keadaan dunia yang semakin aneh. Kita membutuhkan sosok-sosok pembimbing bukan hanya penasehat. Jika penasehat hanya bisa menasehati (berbicara) tanpa mengalami, sedang pembimbing adalah orang yang mengalami selanjutnya memberikan bimbingan.</p>
<p class="MsoNormal">Saat ini banyak sekali pembicara, bahkan marak yang namanya seminar yang isinya banyak berbicara tentang persamaan, kepekaan, pemberantasan kemiskinan. Sementara jika kita lihat kenyataan sekarang ini, rumah mewah dan gubuk reyot seimbang jumlahnya, orang kekenyangan dan yang kelaparan sama banyaknya. Apa iya kita masih bersaudara?</p>
<p class="MsoNormal">Kadang Kita memang sering terbalik, membesarkan masalah kecil, menyepelakan masalah besar. Bisa kita buktikan dengan melihat sekitar kita. Ada seseorang yang dikagetkan oleh suatu berita, mulutnya spontan terbuka, bercucap “Astajim !” ada juga yang lebih inovatif, “Astaga Firullah!”. Dari mana asal kata-kata itu? Sebenarnya yang dimaksud adalah “Astaghfirulloh” yang intinya meminta ampun kepada Allah. Padahal dia adalah orang islam. Bukankan yang seperti ini perlu dipertanyakan?</p>
<p class="MsoNormal">Ada yang lebih extreme lagi, bukan astajim atau astaga firullah, tapi “La illah! “ sungguh luar biasa bukan? Di berikrar la ilah, yang berarti tiada Tuhan!. Hal-hal seperti ini yang biasanya kita sepelekan, padahal itu adalah hal penting kaitannya kita sebagai orang muslim. Sudahkah anda menyadari?</p>
<p class="MsoNormal">….</p>
<p class="MsoNormal">“Ya Allah, lindungilah kami dari dosa yang tidak kami sadari”</p>
<p class="MsoNormal">Selamat menyambut bulan suci Ramadhan, semoga tulisan ini bernilai sedekah. Amin.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><a title="KLik untuk detail" href="http://nolsiji.com">Fauji Nurdian.</a></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faujinurdian.co.cc/berkunjung-ke-rumah-rasul/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kecelakaan vital</title>
		<link>http://faujinurdian.co.cc/kecelakaan-vital/</link>
		<comments>http://faujinurdian.co.cc/kecelakaan-vital/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 08:33:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauji</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Techno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faujinurdian.co.cc/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang mau koreksi  judulnya?   
Seekor motor  berlari dengan cepat, dua orang ada diatasnya, kebetulan saya duduk dibelakang. saya lihat jarum di speed meter  menunjuk angka 100 lebih sedikit. Saat itu tiba-tiba sebuah mobil pickup muncul didepan kami  *satu terkapar, satu melayang . Suatu pengalaman yang masih segar untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Ada yang mau koreksi <span> </span>judulnya? <span style="font-family: Wingdings;"><span> <img src='http://faujinurdian.co.cc/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><em>Seekor</em> motor <span> </span>berlari dengan cepat, dua orang ada diatasnya, kebetulan saya duduk dibelakang. saya lihat jarum di speed meter <span> </span>menunjuk angka 100 lebih sedikit. Saat itu tiba-tiba sebuah mobil pickup muncul didepan kami <span> </span>*<em>satu terkapar, satu melayang .</em> Suatu pengalaman yang masih segar untuk diingat.</p>
<p class="MsoNormal">Seperti speedometer pada motor, manusia juga tentunya juga memiliki barometer <span> </span>untuk kehidupan, yang bisa digunakan untuk mengukur apakah itu masih dalam batas kebaikan atau tidak. Jika alat ukur itu tidak berfungsi dengan baik, atau tidak diperhatikan dengan baik maka kemungkinan terjadi kecelakaan menjadi lebih besar.</p>
<p class="MsoNormal">Sekarang ada cerita berbeda, seorang<span> </span>korban datang kepada seorang yang telah melukainya sehingga mengakibatkan perutnya bengkak. Tanpa bisa mengelak sipelaku kejahatan pun harus bertanggung jawab. Dibawalah sikorban beserta pelaku kepada pihak yang berwenang untuk dibuatkan surat pernyataan damai dengan alasan KECELAKAAN!</p>
<p class="MsoNormal">Begitulah jika manusia tidak menggunakan hatinya sebagai barometer<span> </span>kehidupan dengan baik, lebih fatalnya lagi banyak yang belum mengerti akibat dari kecelakaan vital seperti itu sehingga mengakibatkan kecelakaan lain yang tidak disadari.</p>
<p class="MsoNormal">Saat terjadi kecelakaan antara pria dan wanita, biasanya jalan yang ditempuh adalah menikahkan keduanya. Menurut <span> </span>hukum Negara, itu dibenarkan sebagai jalan keluar, namun berdasar hukum islam masalahnya tidak menjadi simple seperti itu.</p>
<p class="MsoNormal">Pernikahan seperti itu tidak dibenarkan dalam islam, dan sang Ayah (yang melukai) tidak bisa dianggap ayah, karena tidak bisa dijadikan sebagai wali untuk anaknya itu. Jika ini tidak dimengerti maka akan menjadi lebih rumit karena anaknya kelak akan menikah dengan wali yang tidak sah, sehingga mengakibatkan pernaikahan yang tidak sah. Jika pernikahannya tidak sah, maka tidak lain yang akan terjadi adalah zina. Akan turun menurun dan terus menerus. Sungguh kecelakaan yang sangat vital bukan?</p>
<p class="MsoNormal">Lalu bagaimana cara penyelesaian yang terbaik? Menurut saya tidak ada jalan lain selain berhati-hati, waspadai rambu-rambu, jangan sampai kecelakaan itu terjadi! Hanya itu.</p>
<p class="MsoNormal">Menjelang akhir jaman ini memang banyak sekali hal-hal njlimet dalam hidup ini yang luput dari nilai-nilai kebenaran. Ini tidak mengherankan karena sudah jauh hari dulu Nabi yang mulia menyatakan bahwa “diakhir jaman ajaran islam akan terasa asing “. Mungkin Inilah isyarat bagi kita untuk selalu bersiap <span> </span>dengan kedatangan hari menyakitkan itu.</p>
<p class="MsoNormal">Hal-hal yang asynchron juga banyak terjadi sekarang ini, semisal orang tua yang menjodohkan anaknya, dengan alasan “untuk kebaikan”</p>
<p class="MsoNormal">Disaat seperti itu kita pun hanya bisa mengatakan kepada yang dijodohkan, “ikuti saja kemauan orang tuamu” dengan justifikasi berbakti kepada orang tua.</p>
<p class="MsoNormal">Saat-saat seperti itulah kadang para orang tua kehilangan perannya sebagai orang tua. Terlupa akan sebuah pesan “ anak adalah titipan” hanya titipan, bukan orang yang harus digariskan nasibnya. Saat-saat seperti itulah dimana seorang tua pun bisa lalai akan pesan bijak “apa yang kamu anggap baik belum tentu baik untuk orang lain”.</p>
<p class="MsoNormal">Memang tidak ada yang salah dengan perjodohan, dan jusrtu baik untuk menyegerakan pernyempurnaan agama, ya untuk penyempurnaan agama, BUKAN untuk alasan lain. Dalam fiqih pernikahan sendiri harus ada persetujuan dari seorang anak untuk siap dinikahkan sehingga pernikahan itu menjadi sah.</p>
<p class="MsoNormal">Dalam keadaan seperti ini pula kadang seorang anak yang dijodohkan salah langkah, terlalu cepat menerima tanpa memperhatikan criteria, dan ada juga yang menolak trlalu cepat tanpa melihat nilai kebaikannya.</p>
<p class="MsoNormal">Tidak kurang juga yang menjadi linglung, berlarut dalam kebingungan. Lupa akan jalan-jalan menuju keyakinan. <strong>Istikharah,</strong> di ingat kebali,<strong> “ Hasbunalloh wani’mal wakil ni’mal mawla wa ni’mannasir”</strong></p>
<p class="MsoNormal">Alangkah baiknya, jika anak menyadari perannya sebagai anak dan orang tua memahami perannya sebagai orang tua. Tanpa harus ada konflik dan gembar-gembor.</p>
<p class="MsoNormal">Tidak lain halnya dengan mereka yang turun kejalan, membakar dan berteriak dengan dalih membela saudara-saudara kita di palestina. Dengan seperti itu, menjadi <span> </span>pantaskah kita mengganggap diri sebagai mujahidin? Jika kita benar-benar dihadapkan dengan tentara zionis apakah benar berani berteriak? Jujur saja, bagi saya, mungkin lebih baik duduk diatas sajadah, dan cukup dengan suara pelan. Dan bukan berarti kita hanya diam tidak peduli. “<em><span style="font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Allahumma ansur al-muslimeena fil falasteen, wa fi cheechan, wa fi Kashmir, wa fil Iraq, wa fil Hind, wa fil Afghanistan, wa fil Filibeen, wa fil Bakistan wa fi kulli makaan”</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dialah yang maha mendengar. Dialah pemilik kekuatan. Akhirnya, hanya Allah yang maha tau, tentang apa yang ada disudut hati.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Ditulis dengan penuh cinta</em></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://nolsiji.com">Fauji Nurdian</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faujinurdian.co.cc/kecelakaan-vital/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://stats.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://stats.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

